Perilaku Nyontek di Sekolah

Posted: 8 January 2009 in Other's Opinion
Tags: , , , ,

Menyontek atau cheating memang bukan hal baru dalam dunia pendidikan, yang biasanya dilakukan oleh seorang atau sekelompok siswa/mahasiswa pada saat menghadapi ujian (test), misalnya dengan cara melihat catatan atau melihat pekerjaan orang lain atau pada saat memenuhi tugas pembuatan makalah (skripsi) dengan cara menjiplak karya orang lain dengan tanpa mencantumkan sumbernya (plagiat).

Menurut Wikipedia cheating merupakan tindakan bohong, curang, penipuan guna memperoleh keuntungan teretentu dengan mengorbankan kepentingan orang lain.

Meski tidak ditunjang dengan bukti empiris, banyak orang menduga bahwa maraknya korupsi di Indonesia sekarang ini memiliki korelasi dengan kebiasaan menyontek yang dilakukan oleh pelakunya pada saat dia mengikuti pendidikan.

Sebenarnya, secara formal setiap sekolah atau institusi pendidikan lainnya pasti telah memiliki aturan baku yang melarang para siswanya untuk melakukan tindakan nyontek. Namun kadang kala dalam prakteknya sangat sulit untuk menegakkan aturan yang satu ini. Pemberian sanksi atas tindakan nyontek yang tidak tegas dan konsisten merupakan salah satu faktor maraknya perilaku nyontek.

Tindakan nyontek (plagiasi) semakin subur dengan hadirnya internet, ketika siswa atau mahasiswa diberi tugas oleh guru atau dosen untuk membuat makalah banyak yang meng-copy- paste berbagai tulisan yang ada dalam internet secara bulat-bulat. Mungkin masih agak lumayan kalau tulisan yang di-copy-paste-nya itu dipahami terlebih dahulu isinya, seringkali tulisan itu langsung diserahkan kepada guru/dosen, dengan sedikit editing menggantikan nama penulis aslinya dengan namanya sendiri.

Yang lebih mengerikan justru tindakan nyontek dilakukan secara terrencana dan konspiratif antara siswa dengan guru, tenaga kependidikan (baca: kepala sekolah, birokrat pendidikan, pengawas sekolah, dll) atau pihak-pihak lainnya yang berkepentingan dengan pendidikan, seperti yang terjadi pada saat Ujian Nasional. Jelas, hal ini merupakan tindakan amoral yang sangat luar biasa, justru dilakukan oleh orang-orang yang berlabelkan “pendidikan”. Mereka secara tidak langsung telah mengajarkan kebohongan kepada siswanya, dan telah mengingkari hakikat dari pendidikan itu sendiri.

Di lain pihak, para orang tua siswa pun dan mungkin pemerintah setempat sepertinya berterima kasih dan memberikan dukungan atas “bantuan yang diberikan sekolah” kepada putera-puterinya pada saat mengisi soal-soal ujian nasional.

Sekolah-sekolah yang permisif terhadap perilaku nyontek dengan berbagai bentuknya, sudah semestinya ditandai sebagai sekolah berbahaya, karena dari sekolah-sekolah semacam inilah kelak akan lahir generasi masa depan pembohong dan penipu yang akan merugikan banyak orang.

Secara psikologis, mereka yang melakukan perilaku nyontek pada umumnya memiliki kelemahan dalam perkembangan moralnya, mereka belum memahami dan menyadari mana yang baik dan buruk dalam berperilaku. Selain itu, perilaku nyontek boleh jadi disebabkan pula oleh kurangnya harga diri dan rasa percaya diri (ego weakness). Padahal kedua aspek psikologi inilah yang justru lebih penting dan harus dikembangkan melalui pendidikan untuk kepentingan keberhasilan masa depan siswanya.

Akhirnya, apa pun alasannya perilaku nyontek khususnya yang terjadi pada saat Ujian Nasional harus dihentikan.

Bagaimana pendapat Anda?

Comments
  1. indonesiawayan says:

    Saya sangat prihatin dengan perkembangan moral bangsa kita. Yang saya rasakan menjadi penyebab itu semua adalah orientasi pada materialisme dan egoisme yang sangat tinggi sehingga menghalalkan segala cara untuk mencapainya dengan melupakan tujuan utama untuk hidup ini apa. Mungkin tidak punya visi dan misi hidup. Hidup ini diisi dengan kegiatan utama untuk survive dengan mengejar materi. Para guru lupa akan misi utamanya yaitu mendidik moral, membentuk karakter bangsa, membangun fondasi moral dan karakter bangsa. Saya pernah didongengi oleh kakek saya tentang bagaimana recuitment guru pada jaman Belanda masih menjajah dulu. Tidak gampang menjadi guru, saringannya ketat, setelah berhasilpun masih ada beberapa persyaratan lagi yang harus dipenuhi, diantaranya yang membuat saya terkesan adalah mengenai nama sang calon guru. Jika dipandang nama calon guru tersebut terlalu biasa (sangat sederhana) maka diminta untuk mengganti nama supaya lebih berwibaya di mata muridnya nanti. Dari hal yang sekecil itupun sudah diperhatikan, apalagi yang lain-lainnya.
    Pada jaman sekarang saya melihat terjadi suatu penurunan ahklak dan moral bangsa ini yang diakibatkan dari segala segi. Perilaku pengguna jalan adalah cerminan yang paling mewakili karakter kita secara umum. Mereka tidak lagi mengindahkan aturan yang paling sederhana (atau mungkin tidak tahu sama sekali?) yaitu marka jalan, garis di tengah jalan yang entah berwrna putih, kuning, putus-putus, tidak terputus, satu garis atau ganda. Saya melihat itu tidak ada artinya sama sekali. Bagi saya itu adalah dasar yang harus dipahami dan dijalankan secara nyata karena di dalamnya mengandung banyak arti, menghormati hak orang lain dengan tidak melanggarnya. Yah itulah Indonesia, tapi saya tetap cinta negriku ini, namun jika moral bangsa lebih baik maka kecintaanku akan lebih lagi.
    Demikian komentar saya, salam.

  2. diazhandsome says:

    waduhh… jadi malu nih… secara saya sering nyontek… hehehe

    dikit kok…😀

    btw, main balik ya ke blog gw… http://diazhandsome.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s